Dalam kehidupan, kita tidak pernah tahu kapan sebuah risiko atau musibah akan datang. Karena itu, Islam tidak hanya mengajarkan umatnya untuk bertawakal kepada Allah SWT, tetapi juga melakukan ikhtiar dan perencanaan dengan matang.
Salah satu kisah yang memberikan pelajaran penting tentang hal ini adalah kisah Nabi Yusuf AS. Melalui kisah tersebut, kita dapat melihat bagaimana perencanaan dilakukan jauh sebelum masa sulit benar-benar terjadi.
Pelajaran dari Mimpi Raja Mesir
Dalam QS. Yusuf ayat 47–49, Nabi Yusuf AS menjelaskan makna mimpi Raja Mesir tentang tujuh ekor sapi gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus serta tujuh bulir gandum hijau dan tujuh lainnya yang kering.
Nabi Yusuf AS kemudian memberikan solusi untuk menghadapi masa yang akan datang:
قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدْتُمْ فَذَرُوهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِّمَّا تَأْكُلُونَ ٤٧
ثُمَّ يَأْتِي مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ إِلَّا قَلِيلًا مِّمَّا تُحْصِنُونَ ٤٨
ثُمَّ يَأْتِي مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَامٌ فِيهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيهِ يَعْصِرُونَ ٤٩
Artinya:
“Dia (Yusuf) berkata, ‘Kamu bercocok tanamlah selama tujuh tahun berturut-turut. Maka apa yang kamu panen hendaklah kamu biarkan di bulirnya, kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian setelah itu akan datang tujuh tahun yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya, kecuali sedikit dari apa yang kamu simpan. Setelah itu akan datang tahun ketika manusia diberi hujan dan pada masa itu mereka memeras (anggur).’”
(QS. Yusuf: 47–49)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa menghadapi masa sulit membutuhkan persiapan. Saat kondisi sedang baik, sebagian hasil tidak dihabiskan seluruhnya, tetapi disimpan untuk menghadapi masa paceklik.
Perencanaan Bukan Berarti Tidak Bertawakal
Perencanaan dalam Islam bukanlah bentuk ketidakpercayaan kepada Allah SWT. Justru, perencanaan merupakan bagian dari ikhtiar manusia sebelum menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Seorang Muslim berusaha mempersiapkan diri sebaik mungkin, sementara hasil akhirnya tetap diserahkan kepada Allah SWT.
Prinsip ini juga dapat diterapkan dalam kehidupan finansial. Ketika kondisi ekonomi sedang stabil dan pendapatan masih berjalan dengan baik, seseorang dapat mulai menyiapkan dana darurat, mengatur pengeluaran, melunasi kewajiban, menyiapkan dana pendidikan, serta mempersiapkan perlindungan bagi keluarga.
Mengantisipasi Risiko Sebelum Terjadi
Kisah Nabi Yusuf AS juga memberikan pesan bahwa risiko tidak selalu dapat dihindari, tetapi dampaknya dapat dipersiapkan.
Masa paceklik tetap datang. Namun, masyarakat Mesir tidak menghadapinya tanpa persiapan. Hasil panen dari masa subur telah dikelola dan disimpan untuk menghadapi masa sulit.
Dalam kehidupan modern, bentuk risikonya tentu berbeda. Keluarga dapat menghadapi risiko seperti kehilangan sumber pendapatan, kecelakaan, sakit, atau meninggalnya pencari nafkah utama.
Karena itu, perencanaan keuangan sebaiknya tidak hanya berorientasi pada kebutuhan hari ini, tetapi juga mempertimbangkan kemungkinan yang terjadi di masa depan.
Proteksi sebagai Bagian dari Ikhtiar
Salah satu bentuk perencanaan menghadapi risiko adalah menyediakan perlindungan finansial bagi keluarga.
Dalam konteks keuangan syariah, asuransi jiwa syariah hadir dengan prinsip saling tolong-menolong melalui dana tabarru’. Peserta bersama-sama membantu peserta lain yang mengalami risiko sesuai ketentuan yang disepakati dalam akad.
Dengan adanya perlindungan tersebut, keluarga diharapkan memiliki dukungan finansial ketika menghadapi risiko yang tidak terduga.
Hal ini sejalan dengan semangat yang dapat dipetik dari kisah Nabi Yusuf AS: mempersiapkan sesuatu sebelum kebutuhan itu benar-benar datang.
Jangan Menunggu Musibah untuk Mulai Bersiap
Sering kali seseorang baru memikirkan perlindungan setelah mengalami suatu kejadian. Padahal, perencanaan justru idealnya dilakukan ketika kondisi masih baik.
Ketika pendapatan masih berjalan, kesehatan masih terjaga, dan kondisi keluarga relatif stabil, inilah waktu yang tepat untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan menentukan perlindungan yang sesuai.
Perencanaan dapat dimulai dari langkah sederhana:
- Evaluasi kondisi keuangan keluarga.
- Siapkan dana darurat secara bertahap.
- Kelola utang dan kewajiban dengan bijak.
- Siapkan dana untuk tujuan jangka panjang, seperti pendidikan dan masa pensiun.
- Pertimbangkan perlindungan finansial berbasis syariah sesuai kebutuhan keluarga.
- Evaluasi rencana secara berkala agar tetap sesuai dengan kondisi dan tujuan finansial.
Ikhtiar Hari Ini untuk Ketenangan Esok Hari
Kisah Nabi Yusuf AS mengajarkan bahwa masa depan memang berada dalam ketetapan Allah SWT, tetapi manusia tetap diperintahkan untuk berusaha dan mempersiapkan diri.
Perencanaan bukan berarti kita mengetahui apa yang akan terjadi. Perencanaan adalah bentuk tanggung jawab untuk menghadapi kemungkinan yang ada.
Sebagaimana masyarakat Mesir mempersiapkan masa paceklik dengan mengelola hasil panen pada masa subur, kita pun dapat mempersiapkan masa depan dengan mengelola keuangan dan memberikan perlindungan kepada orang-orang yang kita cintai.
Karena kita tidak dapat mengetahui kapan risiko datang, tetapi kita dapat memilih untuk mempersiapkan diri sebelum risiko itu datang.
Referensi
- Al-Qur’an, QS. Yusuf: 43–49, khususnya ayat 47–49 tentang perencanaan menghadapi masa paceklik.
- Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya.
- Otoritas Jasa Keuangan (OJK), materi edukasi mengenai asuransi syariah dan pengelolaan risiko.
- Dewan Syariah Nasional–Majelis Ulama Indonesia, Fatwa No. 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah.