Bagaimana para pendiri bangsa, khususnya golongan ulama dan tokoh agama, memandang dasar negara kita? Melalui kacamata sejarah dan pemikiran teologis yang mendalam, Pancasila bukanlah sebuah Gagasan buatan manusia semata yang menjauhkan masyarakat dari nilai spiritual, melainkan sebuah mahakarya ijtihad politik (ijtihad siyasi) yang jenius demi merajut persatuan di tengah keberagaman Nusantara.
Dalam kehidupan berbangsa termasuk dalam ekosistem profesional dan korporasi memahami akar filosofis Pancasila merupakan hal yang sangat krusial. Bagi para ulama Nusantara, Pancasila adalah kalimatun sawa’ (titik temu) yang berhasil menyatukan ratusan suku, bahasa, dan latar belakang keyakinan ke dalam satu wadah negara yang damai, legal, dan dilindungi oleh konstitusi.
- Hakikat Ijtihad Politik (Ijtihad Siyasi) Para Ulama
Dalam tradisi hukum, ijtihad adalah sebuah ikhtiar pemikiran yang sungguh-sungguh dari para ahli untuk merumuskan solusi atas persoalan-persoalan baru yang tidak tertulis secara literal dalam teks-teks klasik, namun sangat menentukan bagi kemaslahatan publik (mashlahah ‘ammah).
Ketika dihadapkan pada momentum mendirikan negara Indonesia merdeka pada tahun 1945, tokoh-tokoh besar seperti KH. Wahid Hasyim, KH. Mas Mansyur, Ki Bagus Hadikusumo, dan para ulama lainnya melahirkan ijtihad politik yang luar biasa. Indonesia disepakati bukan sebagai negara yang dijalankan berdasarkan satu hukum agama saja, tetapi juga bukan negara yang tidak peduli pada agama dan menjauhkan nilai-nilai ketuhanan dari masyarakat.. Para ulama merumuskannya sebagai negara kesepakatan, atau yang dikenal dengan istilah filosofis Darul Ahdi wa asy-Syahadah (Negara Kesepakatan dan Kesaksian).
“Pancasila adalah payung hukum dan kesepakatan luhur yang membuat nilai-nilai universal spiritualitas dapat berjalan beriringan tanpa harus mengorbankan identitas kultural masing-masing elemen bangsa.”
2. Isi Nilai Pancasila yang Terbuka untuk Semua
Para ulama merumuskan urutan dan kalimat dalam sila-sila Pancasila dengan pertimbangan yang sangat matang. Tujuannya satu : demi kebaikan dan kedamaian semua orang tanpa terkecuali.
- Sila ke-1: Ketuhanan Yang Maha Esa
Keputusan para tokoh agama untuk menghapus tujuh kata di Piagam Jakarta adalah bukti keikhlasan luar biasa demi menjaga Indonesia tetap bersatu dari Sabang sampai Merauke. Para ulama menegaskan bahwa keyakinan pada Tuhan Yang Maha Esa ini menjaga Indonesia agar tetap menjadi bangsa yang beragama dan punya pegangan iman, bukan bangsa yang tidak percaya Tuhan.
- Sila ke-2: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Sila ini berbicara tentang nilai kemanusiaan yang berlaku untuk siapa saja. Intinya adalah kewajiban kita untuk saling bersikap adil dan menghargai kehormatan sesama manusia.
- Sila ke-3: Persatuan Indonesia
Ini adalah wujud nyata dari rasa persaudaraan sebagai satu bangsa. Para tokoh agama mengajarkan bahwa mencintai tanah air tempat kita tinggal bukan cuma slogan, tapi bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual kita.
- Sila ke-4: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Nilai utama sila ini adalah kebiasaan berembuk atau bermusyawarah. Mengambil keputusan bersama itu tidak boleh menang-menangan karena menang jumlah atau kelompok saja, tapi harus pakai kebijaksanaan, kearifan, dan akal sehat.
- Sila ke-5: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Sila ini sangat cocok dengan tujuan akhir dari kehidupan bertetangga dan bernegara, yaitu memastikan kesejahteraan bisa dirasakan rata oleh semua orang dan semua lapisan masyarakat mendapatkan perlindungan yang sama tanpa pilih kasih.
- Apa Arti Sejarah Ini untuk Dunia Kerja Kita Sekarang?
Kesepakatan untuk menerima Pancasila ini juga dipertegas kembali dalam sejarah modern, salah satunya lewat keputusan besar para ulama di Situbondo pada tahun 1983–1984. Di sana ditegaskan bahwa Pancasila adalah rumah bersama untuk bernegara, bukan agama, dan perannya tidak akan pernah menggantikan posisi agama.
Di dalam lingkungan kantor dan dunia kerja kita sehari-hari, keputusan bijak para pendahulu ini memberi contoh yang sangat bagus tentang cara menghadapi perbedaan. Kebiasaan menyelesaikan masalah lewat diskusi (musyawarah) untuk mufakat, saling menghargai hak rekan kerja, serta mengutamakan kekompakan tim di atas kepentingan pribadi atau golongan adalah modal utama. Nilai-nilai inilah yang membuat lingkungan kerja kita jadi nyaman, kompak, kreatif, dan berintegritas.
Melihat Pancasila sebagai hasil keputusan bijak para tokoh ulama memberikan sudut pandang yang positif. Kita jadi tahu bahwa menjadi warga negara yang cinta tanah air sekaligus menjalankan pekerjaan dengan jujur dan punya moral yang baik adalah dua hal yang saling mendukung. Sebagai bagian dari perusahaan yang terus berkembang bersama bangsa, tugas kita sekarang adalah menjaga komitmen bersama ini melalui kerja nyata, semangat kerja yang kuat, dan memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat.