Setiap penghujung Desember, masyarakat dunia bersiap menyambut pergantian tahun Masehi dengan berbagai kemeriahan. Bagi umat Muslim, fenomena ini sering kali menimbulkan pertanyaan “Bagaimana sebenarnya Islam memandang perayaan Tahun Baru Masehi?”
Sebagai agama yang syamil (lengkap) dan mutammim (menyempurnakan), Islam telah memberikan panduan mengenai bagaimana seorang Muslim seharusnya bersikap terhadap tradisi di luar syariat.
1. Prinsip Tasyabbuh (Menyerupai Suatu Kaum)
Landasan utama yang sering dibahas para ulama terkait perayaan ini adalah larangan menyerupai ritual atau kebiasaan khas kaum lain yang berkaitan dengan akidah atau ibadah mereka.
Dalil Hadis: Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud).
Perayaan tahun baru Masehi secara historis memiliki akar dalam tradisi Romawi kuno dan penghormatan terhadap Dewa Janus, serta kental dengan nuansa keagamaan non-Muslim. Oleh karena itu, mengikuti ritualnya (seperti meniup terompet atau perayaan ikonik lainnya) dikhawatirkan masuk ke dalam kategori tasyabbuh.
2. Menjaga Identitas Muslim
Al-Qur’an menegaskan bahwa setiap umat memiliki arah dan tata cara ibadah masing-masing yang harus dijaga kemurniannya.
Dalil Al-Qur’an: Dalam Surah Al-Ma’idah ayat 48, Allah SWT berfirman:
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
“…Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang…” (QS. Al-Ma’idah: 48).
Ayat ini mengingatkan kita bahwa umat Islam memiliki kalender sendiri (Hijriah) dan hari-hari besar sendiri (Idul Fitri dan Idul Adha). Mengedepankan identitas Islam dalam bergembira adalah bentuk rasa syukur atas hidayah iman.
3. Menghindari Perbuatan Tabzir (Sia-sia) dan Maksiat
Perayaan tahun baru sering kali identik dengan pemborosan (kembang api, pesta mewah) dan hura-hura yang tidak bermanfaat. Dalam Islam, membuang-buang harta untuk hal yang tidak diridhai Allah disebut sebagai tabzir.
Dalil Al-Qur’an:
اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا
“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra: 27).
4. Alternatif Positif: Muhasabah dan Reorientasi
Islam tidak melarang seseorang untuk memperhatikan pergantian waktu. Sejatinya, waktu adalah modal utama manusia. Daripada merayakan dengan hura-hura, berikut adalah langkah yang lebih Islami:
Muhasabah (Evaluasi)
Gunakan momen ini untuk menghitung dosa dan kekurangan di tahun lalu. Umar bin Khattab RA pernah berkata:
“Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab (oleh Allah).”
Shadaqah dan Amal Jariyah
Alih-alih membeli kembang api, mengalihkan dana tersebut untuk membantu mereka yang membutuhkan akan menjadi tabungan amal yang kekal.
Memperkuat Silaturahmi dalam Kebaikan
Mengisi waktu dengan berkumpul bersama keluarga di rumah, makan bersama tanpa harus mengikuti ritual luar, serta mendoakan kebaikan untuk umat Islam di seluruh dunia.
Kesimpulan
Bagi seorang Muslim, pergantian tahun bukanlah tentang pesta pora, melainkan tentang pengingat bahwa jatah usia di dunia semakin berkurang dan kematian semakin dekat. Al-Qur’an dan Hadis telah memberikan rambu-rambu agar kita tidak terjebak dalam arus budaya yang dapat mengikis akidah.
Jadilah Muslim yang cerdas dalam memilih perbuatan. Mari jadikan setiap detik pergantian waktu sebagai batu loncatan untuk menjadi pribadi yang lebih bertaqwa.
“Waktu adalah pedang, jika kau tidak menggunakannya untuk kebaikan, ia akan menebasmu dengan kesia-siaan.”
Surat Al-Ma’idah Ayat 48: Arab, Latin, Terjemah dan Tafsir Lengkap | Quran NU Online