Belajar dari Prinsip Zuhud: Memiliki Harta Tanpa Menjadikannya Tujuan Utama Kehidupan

Corporate Communication – 29 September 2026

Di tengah kehidupan modern, harta sering kali menjadi salah satu ukuran keberhasilan. Penghasilan yang lebih besar, rumah yang lebih luas, kendaraan yang lebih baik, hingga kemampuan memiliki berbagai barang dan pengalaman dapat dianggap sebagai tanda pencapaian. Tidak sedikit orang yang kemudian terus mengejar lebih banyak, bahkan ketika kebutuhan dasarnya telah terpenuhi.

Islam tidak mengajarkan bahwa memiliki harta merupakan sesuatu yang buruk. Harta dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan, menafkahi keluarga, membantu sesama, beribadah, dan memberikan manfaat yang lebih luas. Namun, Islam juga mengajarkan agar manusia tidak menjadikan harta sebagai tujuan utama kehidupan.

Salah satu nilai yang dapat menjadi bahan renungan adalah zuhud.

Apa Itu Zuhud?

Secara sederhana, zuhud dapat dipahami sebagai sikap tidak berlebihan dalam mencintai dan menggantungkan diri kepada kehidupan dunia. Zuhud bukan berarti seseorang harus meninggalkan pekerjaan, tidak boleh memiliki kekayaan, atau hidup dalam kemiskinan.

Justru, seseorang dapat memiliki harta dalam jumlah besar tetapi tetap memiliki sikap zuhud apabila hatinya tidak diperbudak oleh harta tersebut.

Dengan demikian, persoalannya bukan semata-mata berapa banyak harta yang dimiliki, tetapi bagaimana seseorang memandang, memperoleh, dan menggunakan harta tersebut.

Seseorang dapat bekerja keras, memiliki tabungan, membeli rumah, membangun usaha, dan mempersiapkan masa depan, tetapi tetap menjadikan semua itu sebagai sarana untuk menjalani kehidupan dengan baik dan memperoleh keberkahan.

Harta Adalah Amanah, Bukan Tujuan Akhir

Dalam perspektif Islam, apa yang dimiliki manusia pada hakikatnya merupakan pemberian dan amanah dari Allah SWT. Karena itu, kepemilikan harta membawa tanggung jawab.

Al-Qur’an mengingatkan dalam Surah Al-Qasas ayat 77:

وَابْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْـَٔاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.”
(QS. Al-Qasas: 77)

Ayat tersebut menunjukkan keseimbangan. Seorang Muslim tidak diminta untuk mengabaikan kehidupan dunia, tetapi juga tidak menjadikan dunia sebagai satu-satunya orientasi.

Harta yang dimiliki dapat menjadi sarana untuk memperoleh kebaikan di akhirat. Dengan harta, seseorang dapat memenuhi kebutuhan keluarga, membantu orang yang membutuhkan, bersedekah, membangun usaha yang bermanfaat, serta menjalankan berbagai bentuk kebaikan lainnya.

Zuhud Bukan Berarti Anti-Kekayaan

Salah satu kesalahpahaman mengenai zuhud adalah menganggap bahwa hidup sederhana berarti tidak boleh memiliki banyak harta.

Padahal, kesederhanaan dan kekayaan tidak selalu bertentangan. Seseorang dapat memiliki kemampuan finansial yang baik sekaligus tetap hidup sederhana. Sebaliknya, seseorang yang memiliki sedikit harta belum tentu terbebas dari keterikatan terhadap dunia.

Karena itu, zuhud lebih berkaitan dengan sikap hati terhadap harta.

Ketika seseorang memiliki harta, tetapi tidak menjadikannya sebagai sumber harga diri, kesombongan, atau satu-satunya sumber kebahagiaan, ia memiliki ruang yang lebih besar untuk menggunakan harta tersebut secara bijaksana.

Sebaliknya, ketika pencarian harta tidak pernah memiliki titik cukup, seseorang dapat terus merasa kurang meskipun kebutuhan hidupnya sebenarnya telah terpenuhi.

Ketika Keinginan untuk Memiliki Lebih Banyak Menjadi Perlombaan

Islam juga memberikan peringatan mengenai kecenderungan manusia untuk terus berlomba dalam memperbanyak sesuatu.

Allah SWT berfirman:

أَلْهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ ۝١

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.”
(QS. At-Takatsur: 1)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa keinginan untuk terus menambah harta, kedudukan, atau berbagai pencapaian dapat membuat seseorang kehilangan fokus terhadap hal-hal yang lebih penting.

Keinginan untuk berkembang tentu bukan sesuatu yang salah. Yang perlu diperhatikan adalah ketika “memiliki lebih banyak” menjadi tujuan yang tidak pernah selesai.

Hari ini seseorang mungkin ingin membeli kendaraan. Setelah mendapatkannya, muncul keinginan untuk memiliki kendaraan yang lebih mahal. Setelah itu, muncul target rumah yang lebih besar, investasi yang lebih banyak, atau gaya hidup yang lebih tinggi.

Tanpa disadari, standar “cukup” terus bergerak semakin jauh.

Di sinilah prinsip zuhud dapat menjadi pengingat bahwa kehidupan tidak semata-mata tentang akumulasi.

Mengubah Cara Pandang terhadap Kesuksesan Finansial

Prinsip zuhud juga dapat membantu seseorang mendefinisikan ulang arti kesuksesan finansial.

Kesuksesan tidak selalu harus diukur dari jumlah aset atau besarnya penghasilan. Kondisi keuangan yang sehat juga dapat dilihat dari kemampuan seseorang memenuhi kebutuhan secara wajar, mengelola kewajiban, mempersiapkan masa depan, membantu keluarga, serta menggunakan hartanya untuk hal-hal yang bermanfaat.

Dengan perspektif tersebut, seseorang tidak lagi hanya bertanya:

“Berapa banyak yang bisa saya miliki?”

Tetapi juga:

“Untuk apa harta ini saya gunakan?”

Pertanyaan kedua dapat membantu mengubah orientasi keuangan dari sekadar mengumpulkan menjadi mengelola dan memberi manfaat.

Zuhud dan Perencanaan Keuangan

Menjalankan prinsip zuhud bukan berarti mengabaikan perencanaan keuangan. Justru, perencanaan keuangan dapat menjadi salah satu bentuk tanggung jawab terhadap amanah yang dimiliki.

Menyisihkan dana untuk kebutuhan masa depan, memiliki dana darurat, menghindari utang yang tidak diperlukan, mempersiapkan pendidikan anak, merencanakan kebutuhan hari tua, hingga memiliki perlindungan finansial merupakan bagian dari upaya mengelola harta dengan bijak.

Yang perlu dijaga adalah orientasinya.

Perencanaan keuangan dilakukan bukan semata-mata agar seseorang dapat mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya, tetapi agar harta dapat digunakan untuk menjalani kehidupan secara lebih tertata dan memenuhi tanggung jawab kepada diri sendiri, keluarga, serta lingkungan.

Dengan demikian, zuhud bukan lawan dari perencanaan keuangan. Zuhud dapat menjadi nilai yang membantu seseorang menentukan batas antara kebutuhan dan keinginan, antara kecukupan dan keserakahan, serta antara menggunakan harta sebagai sarana dan menjadikannya sebagai tujuan.

Menempatkan Harta di Tangan, Bukan di Hati

Pada akhirnya, prinsip zuhud mengajarkan tentang posisi harta dalam kehidupan.

Memiliki harta bukanlah masalah. Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai harta menentukan nilai diri, mengendalikan keputusan, atau membuat seseorang melupakan tujuan kehidupan yang lebih besar.

Harta sebaiknya berada di tangan, sehingga dapat dikelola dan dimanfaatkan. Bukan berada di hati, sehingga menjadi sesuatu yang terlalu dicintai dan sulit dilepaskan.

Dengan cara pandang tersebut, seseorang tetap dapat bekerja keras, membangun kehidupan yang sejahtera, merencanakan masa depan, dan menikmati rezeki yang halal tanpa kehilangan kesadaran bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir.

Sikap zuhud pada akhirnya bukan tentang seberapa sedikit yang dimiliki, melainkan tentang seberapa tepat seseorang menempatkan apa yang dimilikinya.

Referensi

  1. Al-Qur’an, QS. Al-Qasas: 77, tentang menggunakan karunia Allah untuk mencari kebahagiaan akhirat tanpa melupakan bagian kehidupan dunia. (Quran Enc)
  2. Al-Qur’an, QS. At-Takatsur: 1–8, tentang kecenderungan bermegah-megahan dan berlomba memperbanyak kenikmatan dunia. (Islam Awakened)
  3. Kementerian Agama RI, Terjemahan Makna Al-Qur’an, QS. Al-Qasas: 77. (Quran Enc)
  4. Quranic Arabic Corpus, Qur’an 28:77, sebagai rujukan teks dan terjemahan ayat. (Korpus Al-Qur’an)

Warning: Terjadi galat tak terduga. Mungkin ada yang salah dengan WordPress.org atau konfigurasi server ini. Jika masalah berlanjut, silakan coba forum dukungan. (WordPress tidak bisa membuat sambungan aman ke WordPress.org. Silakan hubungi administrator server Anda.) in /opt/lampp/htdocs/AJSB/wp-admin/includes/translation-install.php on line 65