Corporate Communication – 1 Oktober 2026
Dalam perjalanan menuju kemandirian, tidak semua anak dewasa dapat langsung menjalani kehidupan secara mandiri setelah menyelesaikan pendidikan atau mulai bekerja. Kondisi ekonomi, kehilangan pekerjaan, biaya tempat tinggal, perubahan status pernikahan, maupun kebutuhan untuk menata kembali kondisi keuangan dapat membuat anak dewasa kembali tinggal bersama orang tua.
Fenomena ini sering disebut boomerang kids, yaitu kondisi ketika anak yang sebelumnya telah tinggal mandiri kemudian kembali ke rumah orang tua. Istilah tersebut menggambarkan pola “pergi dan kembali” dalam kehidupan keluarga.
Kembalinya anak ke rumah tidak selalu menjadi persoalan. Bagi keluarga, kondisi ini dapat menjadi kesempatan untuk saling mendukung. Namun, dari sisi keuangan, kehadiran kembali anak dewasa dapat mengubah struktur pengeluaran rumah tangga dan memengaruhi rencana keuangan orang tua, terutama apabila tidak disertai kesepakatan dan perencanaan yang jelas.
Ketika Anak Kembali, Pengeluaran Rumah Tangga Dapat Berubah
Tinggal bersama kembali berarti terdapat kebutuhan tambahan yang mungkin sebelumnya tidak diperhitungkan dalam anggaran rumah tangga. Pengeluaran untuk makanan, listrik, air, internet, transportasi, kebutuhan sehari-hari, hingga biaya kesehatan dapat meningkat.
Pew Research Center dalam survei terhadap orang dewasa berusia 18–34 tahun di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 44% responden menerima bantuan finansial dari orang tua dalam satu tahun terakhir. Di antara anak dewasa yang tinggal bersama orang tua, 65% mengatakan mereka ikut membayar pengeluaran rumah tangga seperti kebutuhan makanan atau utilitas, sedangkan 46% memberikan kontribusi untuk sewa atau cicilan rumah.
Data tersebut menunjukkan bahwa tinggal bersama tidak selalu berarti seluruh kebutuhan anak harus ditanggung orang tua. Kontribusi dari anak dewasa dapat menjadi bagian dari pengelolaan keuangan keluarga sekaligus membantu anak membangun kembali kemandirian finansial.
Dampaknya terhadap Perencanaan Keuangan Orang Tua
Persoalan yang perlu diperhatikan bukan hanya bertambahnya pengeluaran bulanan. Dukungan finansial kepada anak juga dapat berpengaruh terhadap tujuan keuangan orang tua dalam jangka panjang.
Misalnya, orang tua yang sebelumnya mengalokasikan pendapatan untuk dana pensiun, tabungan, investasi, pembayaran utang, atau kebutuhan kesehatan mungkin perlu menyesuaikan kembali alokasi tersebut ketika anak kembali tinggal di rumah.
Dalam survei Pew Research Center, 36% orang tua yang memberikan bantuan finansial kepada anak dewasa mengatakan bantuan tersebut setidaknya sedikit berdampak negatif terhadap kondisi keuangan mereka. Dampaknya juga berbeda menurut tingkat pendapatan; orang tua dengan pendapatan lebih rendah cenderung lebih merasakan tekanan finansial.
Karena itu, membantu anak sebaiknya tidak dilakukan dengan mengorbankan seluruh rencana keuangan orang tua. Dukungan antaranggota keluarga tetap perlu ditempatkan dalam batas kemampuan finansial yang sehat.
Langkah pertama adalah melihat kembali kondisi keuangan keluarga setelah anak kembali tinggal di rumah.
Orang tua dapat membuat daftar sederhana mengenai:
Anggaran membantu keluarga mengetahui apakah tambahan pengeluaran masih dapat ditanggung tanpa mengganggu kebutuhan dan tujuan finansial yang telah direncanakan.
Consumer Financial Protection Bureau juga menekankan bahwa penyusunan anggaran membantu seseorang memastikan kebutuhan utama tetap terpenuhi sekaligus memberikan ruang untuk menabung dan memenuhi tujuan finansial lainnya.
Kembalinya anak ke rumah dapat menjadi bentuk dukungan keluarga, tetapi bukan berarti orang tua harus mengambil alih seluruh kebutuhan finansial anak.
Apabila anak telah memiliki penghasilan, keluarga dapat membicarakan bentuk kontribusi yang sesuai. Misalnya, anak dapat ikut membayar sebagian kebutuhan listrik, internet, belanja rumah tangga, atau memberikan kontribusi rutin kepada orang tua.
Pembagian tersebut tidak harus dipandang sebagai “membebani” anak. Justru, keterlibatan dalam pengeluaran rumah tangga dapat menjadi bagian dari proses membangun kembali kebiasaan finansial yang mandiri.
Dalam survei Pew Research Center, sebanyak 72% anak dewasa yang tinggal bersama orang tua melaporkan bahwa mereka berkontribusi secara finansial terhadap rumah tangga dalam bentuk tertentu.
Dukungan akan lebih terarah apabila orang tua dan anak memiliki kesepakatan yang jelas.
Tidak harus berupa perjanjian formal, tetapi keluarga dapat membicarakan beberapa hal seperti:
Berapa lama anak berencana tinggal di rumah?
Jika kepulangan bersifat sementara, tentukan tujuan yang ingin dicapai selama periode tersebut.
Apa target keuangannya?
Misalnya melunasi utang, membangun dana darurat, mendapatkan pekerjaan baru, atau mengumpulkan dana untuk tempat tinggal sendiri.
Berapa kontribusi anak terhadap rumah tangga?
Besarnya dapat disesuaikan dengan penghasilan dan kondisi anak.
Apa tanggung jawab lainnya?
Kontribusi tidak selalu berupa uang. Anak dapat membantu pekerjaan rumah, kebutuhan orang tua, atau kebutuhan keluarga lainnya.
Dengan kesepakatan tersebut, tinggal bersama dapat menjadi fase transisi menuju kemandirian, bukan kondisi yang berlangsung tanpa arah.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah keseimbangan antara membantu anak saat ini dan mempersiapkan kebutuhan orang tua di masa mendatang.
Orang tua tetap perlu mempertahankan dana darurat dan melanjutkan persiapan untuk kebutuhan jangka panjang, termasuk masa pensiun dan kebutuhan kesehatan.
CFPB menempatkan perencanaan keuangan masa lanjut usia sebagai bagian penting dari keamanan finansial jangka panjang, termasuk dalam mengambil keputusan mengenai tempat tinggal, aset, dan kebutuhan keuangan di masa mendatang.
Dengan demikian, keputusan untuk membantu anak sebaiknya mempertimbangkan kondisi orang tua sendiri. Jangan sampai bantuan yang diberikan hari ini justru membuat orang tua kehilangan kemampuan memenuhi kebutuhannya sendiri di kemudian hari.
Perubahan komposisi keluarga juga menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali perlindungan finansial.
Ketika anak kembali tinggal bersama, kebutuhan keluarga dapat berubah. Orang tua dapat meninjau kembali apakah perlindungan yang dimiliki masih sesuai dengan kondisi keluarga, termasuk perlindungan jiwa dan kesehatan serta kesiapan dana untuk menghadapi risiko yang dapat mengganggu kondisi finansial.
Perencanaan proteksi bukan hanya tentang menghadapi risiko yang terjadi pada hari ini, tetapi juga menjaga agar satu peristiwa tidak mengganggu rencana keuangan keluarga secara keseluruhan.
Kembali ke rumah orang tua tidak harus dipandang sebagai sebuah kegagalan. Dalam kondisi tertentu, rumah orang tua dapat menjadi tempat untuk melakukan financial reset atau penataan kembali kondisi keuangan.
Anak dapat memanfaatkan periode tersebut untuk:
Bagi orang tua, peran yang diberikan tidak harus selalu berupa bantuan finansial. Orang tua juga dapat membantu anak melalui diskusi mengenai pengelolaan uang dan kebiasaan finansial yang lebih sehat.
Pew Research Center menemukan bahwa sebagian besar orang tua dalam surveinya juga menjadi tempat anak dewasa meminta nasihat, termasuk mengenai pekerjaan dan kondisi keuangan.
Menjaga Keseimbangan antara Kepedulian dan Kesiapan Finansial
Fenomena boomerang kids menunjukkan bahwa perjalanan menuju kemandirian finansial tidak selalu berjalan lurus. Anak yang telah tinggal mandiri dapat kembali membutuhkan dukungan keluarga, dan kondisi tersebut dapat terjadi karena berbagai alasan.
Bagi orang tua, yang terpenting bukan sekadar menentukan apakah anak boleh kembali tinggal di rumah, tetapi bagaimana keluarga mengelola perubahan tersebut secara terencana.
Membuat anggaran baru, membagi tanggung jawab, menetapkan tujuan, menjaga dana darurat, mempertahankan persiapan masa depan, dan mengevaluasi perlindungan finansial dapat membantu keluarga melewati masa transisi dengan lebih terarah.
Pada akhirnya, rumah dapat menjadi tempat untuk kembali ketika kehidupan membutuhkan jeda. Namun, dukungan keluarga akan semakin bermakna apabila disertai perencanaan yang membantu setiap anggota keluarga kembali membangun kemandirian finansial.
Referensi
*PT AJSB berizin dan diawasi oleh OJK
Kantor Pusat Jl. Wolter Monginsidi No. 86 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Telepon(021) 2700 209 / (021) 2700 206